Buku ini mengangkat fenomena alih kode (code-switching) yang kian marak dalam tulisan kreatif siswa di era digital, saat bahasa Indonesia bertemu secara intensif dengan bahasa asing dan bahasa daerah. Melalui pendekatan fenomenologi—khususnya kerangka fenomenologi transendental Husserl dan hermeneutik Moustakas—penulis menggali lived experience siswa dalam menggunakan alih kode pada karangan naratif mereka, sekaligus menelaah bagaimana guru Bahasa Indonesia memaknai fenomena tersebut dan bagaimana pemaknaan itu memengaruhi praktik pengajaran di kelas